oleh

RAMADHAN ITU TIDAK BUTUH DIHORMATI

Oleh : Mochammad Rifai

Banyuwangi Berita Oposisi.

Marhaban yaa Ramadhan. Spanduk, tulisan iklan bertebaran di mana-mana menggambarkan semangat kaum muslimin menyambut setiap datangnya bulan Suci Ramadhan. Selamat Datang Bulan Ramadhan. Ramadhan (seolah-olah) merupakan tamu yang dinanti-nantikan kedatangannya. Tapi, tamu yang dinanti-nantikan kedatangannya itu belum tentu karena tamunya itu sendiri. Sering orang menanti-nanti kedatangan tamu karena mengetahui dan mendambakan sesuatu yang akan dibawa oleh si tamu. Mungkin, memang ada yang menanti-nanti datangnya bulan Ramadhan karena alasan yang bersifat religi atau bahkan spiritual. Namun, pada bagian lain, tidak menutup kemungkinan banyak yang menyambut bulan itu justru lebih kentara karena keistimewaan-keistimewaan duniawi yang menyertainya.

Industri tontonan TV misalnya, jauh hari sebelum para kiai pesantren menyusun jadwal pengajian pesanan sudah menyiapkan jadwal dan materi acara yang akan ditayangkan selama bulan Ramadhan. Artis-artis dikontrak tiba-tiba menjadi sangat santri di panggung TV. Ustadz-ustadz metropolitan jauh hari dikontrak untuk mengisi acara-acara bulan suci dengan kemasan yang apik dengan sponsor aneka ragam aksesories untuk menyambut Hari Raya. Pedagang-pedagang jauh hari sudah ancang-ancang menaikkan harga-harga kebutuhan pokok, terutama makanan.  Ibu-ibu rumah tangga juga sudah menyiapkan menu-menu istimewa yang akan disuguhkan dalam acara-acara buka dan sahur nanti. Instansi-instansi, berbagai ormas dan orpol tentu tidak mau ketinggalan. Mereka sudah menyusun agenda buka bersama dengan acara-acara ‘kerohanian’ dan atau sekaligus konsolidasi. Bagi mereka yang akan merencanakan untuk menjadi calon dan menghadapi pilihan-pilihan apakah itu pilkades, pilkada, pilgub, dan pileg bulan, Ramadhan merupakan medan strategis yang sangat diperhitungkan kaitannya dengan taktik-strategi pemenangan. Bukankah bulan Ramadhan juga disebut bulan Kemenangan?

Tontonan lain tak kalah menarik di berita TV biasanya setiap menyongsong bulan Suci Ramadhan ini ada yang mengagendakan melakukan sweeping. Warung-warung yang buka siang hari menjadi sasaran aksi sweeping. Untuk menghormati bulan Ramadhan ataukah membantu mereka agar kuat puasa karena tidak banyak godaan? Lah ini yang perlu kejelasan!

Sebenarnya, tanpa dihormati bulan Ramadhan sudah sangat terhormat. Ramadhan sangat terhormat terutama karena pada bulan ini kitab Suci Alquran diturunkan (Baca Q. 2: 185). Berita gembira dari Rasulullah SAW bahwa selama bulan Ramadhan,  pintu surga dibuka (HR Bukhori Muslim dari sahabat Abu Hurairah). Justru karena keterhormatan Ramadhan itulah, kaum beriman dengan gairah menunggu-nunggu kedatangannya. Mereka ingin mendapatkan berkah Ramadhan. Terluberi keterhormatannya. Pada bulan suci, bulan di mana diturunkan kitab suci ini, mereka ingin benar-benar menyucikan diri; setelah sebelas bulan boleh menjadi tergelepoti oleh noda-noda yang menghambat perjalanan mereka menuju hadirat-Nya.

”Semua umatku masuk surga, kecuali mereka yang tidak mau, sabda Rasulullah SAW.” Adakah orang yang tidak mau menerima tawaran masuk surga ? Semua orang pasti mau dan ingin masuk surga. Hanya, jawaban mulut ini masih perlu diuji dengan perilaku dan perbuatan, kan begitu. Diakui atau tidak, apa yang kita ucapkan sering berbeda. Bahkan banyak yang berlawanan dengan tindakan kita. Bahasa agamanya munafik, lain di bibir lain di hati. Misalnya jangan bermain-main dengan barang riba, tapi bank dan aneka jasa pinjam uang berbunga menjamur di mana-mana. Sering mengatakan bahwa politik itu kotor, kejam, menghalal cara apapun, tapi kenyataannya meraka nyaman saja di kubangan politik. Suka mengkritik dan mengatakan wakil rakyat brengsek, tapi yang berlomba mendaftarkan diri jadi calon wakil rakyat hampir ada di setiap gang kampung. Kita berteriak-teriak hormatilah bulan suci Ramadhan, tapi tindakan kita justru menodainya. Kondisi yang berbalik inilah, kelak di yaumil akhir , mulut-mulut kita dikunci dan tangan-tangan kita yang berbicara, kaki-kaki dan anggota badan kita yang bersaksi (Baca Q. 36: 65). Tidak ada dilpomasi, tidak musyawarah, tidak ada debat, tidak ada tawar-menawar, tidak ada lobi.

Allah SWT menunjukkan rahmat-Nya di bulan suci ini kepada hamba-hamba-Nya. Allah SWT menjadikan bulan suci ini waktu khusus untuk kita self training menjadi manusia yang lurus dan jujur. Lurus dan jujur kepada diri sendiri dan kepada-Nya. Lurus dan jujur dalam pengabdian. Lurus dan jujur dalam beribadah. Dan itu semua sesuatu yang manfaatnya kembali kepada diri kita sendiri.

Menjalankan ibadah puasa, tak ada seorang pun yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa. Apakah kita benar-benar berpuasa karena Allah? Hanya Allah SWT yang pasti mengetahui dan dirinya sendiri yang bisa mengukurnya. Hati setiap insan tidak bisa ditipu. Ramadhan hanyalah antara kita dan Allah. Maka itu, puasa Ramadhan, Allah sendiri yang akan mengurusnya. Mudah-mudahan kita sukses menjalankan seluruh rangkaian ibadah di Bulan Ramadhan tahun ini dengan nilai excellent. Kalaulah Allah SWT berkenan ridha dan menerima amalan-amalan kita, Allah SWT tidak punya sifat ingkar janji. Apa itu, badan kita dijauhkan dari siksa api neraka. Allah sendiri yang menjamin barang siapa yang ibadah puasa sempurna, akan  menjadi penghuni tempat yang tak terbayangkan oleh akal mahluk keindahannya, Taman Firdausy untuk selama-lamanya. Semoga. (*)

0Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed