oleh

Ada Apa Dengan Mbok Sriatun Bersila di Pantai Prigi

Trenggalek beritaoposisi.co.id, – Seorang wanita setengah baya duduk bersila di Tepi Pantai Prigi Trenggalek. (26/05/19)

Wanita bernama Sriatun itu terdapat sebuah tampah (wadah dari anyaman bambu) berisi segunduk kacang rebus, di dekatnya, ada kantong plastik besar berisi kerupuk .

“Monggo Mas/Mba tumbasi (dibeli) kacange, nopo krupuk niki (atau kerupuk ini ),” ucap Sriatun kepada setiap orang yang masuk ke tempat wisata pantai Prigi untuk berlibur .

Wajahnya sumringah ketika seorang anak kecil, bersama ibu dan ayahnya, mendekati dan membeli sebungkus kacang rebus Rp 5.000.

Suami mbok Sriatun yang berbaring sakit

“Alhamdulillah, sekedik-sekedik pajeng (sedikit-sedikit laku), yang penting bisa buat sehari-hari”, ujar Sriatun mengawali berbincangan dengan wartawan siang itu.

Mbok Sriatun berasal dari Tasik madu RT 07 RW 01 Kampung baru Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Setiap Sabtu dan Minggu berjualan kacang rebus dan kerupuk, pukul 07.00 – sore hari.

Ia berjalan kaki dari rumahnya, yang jaraknya sekitar 700 meter dari Pantai. Ibu satu anak itu memilih berjualan di situ karena pantai tersebut cukup ramai dikunjungi.

“Saking (dari) jam 7 pagi, dugi sonten (sore), kulo mlampah,kadang – kadang diteraken yogane. (saya jalan, kadang diantar anak ),” ceritanya.

Kendati demikian, dagangan Mbok Sriatun tidak selalu habis terjual. Seperti siang itu, kacang rebusnya masih terlihat penuh, juga kerupuk yang dibelinya dipasar .

“Hari ini sepi nak , mungkin belum rejekinya , tidak ada yang beli sama sekali,” tuturnya.

Namun, ia terdiam ketika ditanya untuk apa kacang dan kerupuk jika tidak laku terjual. Wanita ini hanya mengaku beli kacang mentah di Pasar 20 kilogram seharga sekitar Rp 200.000. Kacang itu ia rebus sendiri dan dijual rata-rata Rp 5.000 – Rp 10.000 per bungkus.

Mbok Sriatun lantas bercerita jika suaminya sakit sudah 5 Tahun dan hanya terbaring ditempat tidur, Sejak itu dirinya harus menafkahi keluarga. Meski kondisi ekonomi terhimpit, perempuan berhijab ini terus berjuang.

“Sejak suami saya sakit tidak bisa berjalan , yang jadi tulang punggung saya.Anak saya terpaksa putus sekolah karena tidak ada biaya ,” ucapnya.

Kondisi Mbok Sriatun tidak lantas membuat dia patah arang, apalagi berpangku tangan mengharap belas kasihan orang lain. Sriatun pantang mengemis, dia lebih memilih menjadi penjual kacang rebus meski penghasilanya teramat kecil.

“Kulo sadean tiap sabtu minggu, nggih angsal yotro Rp 25.000 an damel tumbas beras kagem maem ( saya jualan tiap hari sabtu minggu, dapat uang Rp 25 ribu untuk beli beras dan buat makan ),” tegasnya sambil mengusap air mata.

Mbok Sriatun menangis tatkala melihat suami yang selalu berada diatas tempat tidur ditemani Bagus anaknya.

Dia berharap ,suatu saat jika Tuhan memberi rejeki, Dirinya akan membawa suami untuk berobat agar bisa sembuh dari sakit dan bisa bercengkerama seperti sedia kala. (ctr/pra)

0Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed