oleh

Bersih Dusun Kedonen, Gelar Ritual Adat Yang Unik Dan Menghibur Masyarakat

-Budaya-22 views

Banyuawangi Oposisi,

Banyak peristiwa yang tidak terbukukan dalam sejarah, yang kemudian bergulir jadi cerita rakyat karena diyakini bahwa peristiwa itu ada dan terjadi. Sehingga mereka untuk mengenang peristiwa itu melakukan ritual dengan cara meniru apa yang pernah dilakukan nenek moyangnya.

Seperti pantauan media di Dusun Kedonen Desa Bomo Kecamatan Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi Sabtu 06/10/2018. Selain memang dalam rangka rayakan Tahun Baru Islam 1440 H yang dirangkai dengan acara selamatan bersih desa. Warga Dusun Kedonen lakukan ritual adat mengenang asal muasal sebutan sebuah kampung ” Kedonen “.

Ritual dalam rangka kenang asal muasal kampung ” Kedonen ” pelaksanaannya dipusatkan di sebuah “Bukit (Gumuk)” yang disebut dengan nama “Gumuk Petaunan”. Di “Bukit (Gumuk) Petaunan” itu menurut cerita masyarakat pernah tinggal seseorang yang dipercaya pertama kali babat alas. Menurut tokoh ritual adat orang pertama yang tinggal di tempat itu dikenal dengan sebutan “Buyut Lanun”. Selanjutnya disebut “Bukit (Gumuk) Petaunan” dikarenakan setiap tahun sejak dulu secara turun temurun anak garis keturunan dari “Buyut Lanun” lakukan ritual alakadarnya.

Prosesi ritual diawali dengan diaraknya salah satu keturunan “Buyut Lanun” bernama Jumali didampingi beberapa saudara yang se garis keturunan dan 2 orang penari Gandrung. Sesaat setelah Jumali memasuki lokasi tiba – tiba Jumali lakukan gerakan – gerakan aneh seperti kemasukan roh halus atau makhluk astral. Jumali pun dengan kawalan pemandu adat dan beberapa keluarga “Buyut Lanun” hampiri sebuah batu besar yang ada di atas “Gumuk Petaunan”. Di batu besar itulah Jumali semakin menjadi dan merepresentasikan roh – roh yang ada di “Gumuk Petaunan”.

Semua sesajen persembahan yang disiapkan pemandu adat untuk ritual di cek satu per satu oleh Jumali. Setelah itu roh – roh yang merasuki diri Jumali sepontan membuat Jumali yang diketahui tidak bisa joget Gandrung itu. Tahu – tahu joget ikuti instromen musik Gandrung ditemani oleh 2 penari Gandrung. Berkali – kali Jumali hampiri sesajen di batu dan berkali – kali minta gending menuruti permintaan roh halus dalam dirinya. Jumali pada ritual kali ini mengalami kesurupan cukup lebih lama dari tahun – tahun sebelumnya.

Kalau dilihat dari ragam gending yang diminta, sepertinya ada beberapa roh halus yang berbeda karakter susupi jasat Jumali. Cara jogetnya pun berbeda – beda, ada yang berprilaku seperti anak kecil minta dituntun berjalan orang tuanya. Ada yang menangis karena ditinggal orang terkasihnya sehingga Jumali kembali ke batu besar dan mengelus – ngelus batu. Ada yang berprilaku layaknya seorang ibu sedang menimang – nimang anaknya, sehingga Jumali harus gendong buah kelapa gading sambil berjoget.

” Ini dalam rangka bersih dusun, tapi ritualnya dimulai dari Gumuk petaunan ini karena asal muasal Kedonen dari orang pertama bernama Buyut Lanun yang menetap di Gumuk ini, “kata Musiyanto pemandu ritual adat didampingi oleh Supiatun keturunan Buyut Lanun.

Sementara Kepala Dusun Kedonen kepada awak media menuturkan bahwa ritual bersih dusun tersebut rutin setiap bulan Suro dilakuakn oleh warganya. Menurut Kadus Kedonen hal tersebut dilaksanakan selain sebagai wujud sukur juga dalam rangka nguri – nguri budaya. Kegiatan tersebut menurutnta juga jadi sarana membangun kebersamaan. Apalagi di Dusun Kedonen penduduknya menganut keyakinan atau agama yang berbeda. Namun dalam kegiatan bersih dusun dan ritual adat mereka berjibaku bahu – membahu terlibat seperti tidak ada perbedaan, katanya. (rdy35/eta).

10Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed