oleh

Buang Limbah Beracun Sembarangan, Desa Mojopurno Diserang Jutaan Nyamuk

Magetan Oposisi- Koloni nyamuk menyerang Dusun Tugu, Desa Mojopurno, Kabupaten Magetan. Jutaan ekor nyamuk itu sangat agresif menyerang penduduk setempat. Diduga, munculnya nyamuk dari aliran sungai yang mengandung limbah B3 akibat sisa produksi industri penyamakan kulit.

“Nyamuknya ganas kalau mendatangi kita. Apalagi mereka datang dalam jumlah besar. Suaranya seperti suara pesawat karena banyaknya nyamuk. Karena itu, kami menyebutnya nyamuk jet tempur,” ungkap Yadi, warga RT 2 RW 4 Dusun Tugu, Desa Mojopurno, Magetan, belum lama ini.

Koloni nyamuk itu datang menjelang maghrib hingga pagi hari. Yang menjadikan masyarakat resah, karena mereka datang dalam jumlah luar biasa banyaknya, masuk ke dalam rumah-rumah penduduk. Apalagi gigitannya terasa menusuk tajam dan menimbulkan bentol dan gatal di kulit.

Kondisi itu terjadi sejak enam bulan terakhir. Warga telah melaporkan ke pihak berwajib. Lalu, dilakukan dilakukan fogging pada siang hari di kawasan desa setempat. Namun, sore harinya koloni nyamuk itu datang kembali ke rumah-rumah warga. Menurut Yadi, bila warga memasang nyamuk bakar atau menyemprotkan cairan pembasmi nyamuk, mereka akan terhalau.

Namun, begitu obat nyamuk bakar padam, atau aroma cairan pembasmi nyamuk aromanya habis, maka koloni nyamuk itu kembali mencari sasaran penduduk setempat.

Di kawasan dusun Tugu, Desa Mojopurno, terdapat sungai yang menjadi tempat pembuangan limbah industri penyamakan kulit. Limbah itu menebarkan aroma busuk dan menyengat dan menyebabkan rusaknya ekosistem. Diduga, koloni nyamuk muncul dari aliran sungai tersebut.

Tak jauh dari Dusun Tugu terdapat Dusun Mandiro dan Dusun Panasan. Kedua dusun itu dikenal sebagai tempat industri penyamakan kulit yang membuang limbah beracunnya ke sungai yang membelah Dusun Tugu.

Warga berharap agar Pemkab Magetan turun mengatasi serangan nyamuk yang luar biasa banyaknya, akibat dari sungai yang aliran airnya tidak berjalan dan mengandung limbah sisa produksi penyamakan kulit.

“Setiap hari kami tak hanya diserang jutaan nyamuk. Tapi, kami juga menghirup aroma busuk dan menyengat dari limbah penyamakan kulit,” kata warga lain. (pri)

2Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed