oleh

Bullying & Bagaimana Menyikapi ” Kasus Video Viral SMP NEGERI 1 Songgon ? “

Berita Oposisi.co.id

Video viral yang menggambarkan tindak kekerasan fisik antarsiswa SMP di Kecamatan Songgon cukup memprihatinkan semua pihak. Sekalipun diyakini bahwa hal serupa sangat mungkin juga kerap terjadi di sekolah lainnya. Tidak satupun sekolah yang benar-benar bebas bully baik yang terjadi antarsiswa sebaya, senior-yunior atau guru-siswa dan siswa-guru.

Seperti itu yang diungkapkan oleh M. Rifai, M.Pd. Fungsionaris PK PGRI Biro Advokasi dan Penegakkan Kode Etik Profesi Guru. Menanggapi adegan layaknya preman dan sok jagoan siswa SMP Negeri 1 Songgon kepada temannya yang viral di medsos itu. Lanjut M. Rifai mengatakan bahwa tindakan menyakiti yang lain baik dalam bentuk fisik, verbal, psikis atau dalam bentuk persikusi karena SARA atau rasis disebut bully ( istilah populer di A.S.). Yang artinya tindakan kekerasan.

Kekerasan atau bully itu terjadi karena pandangan yang tidak setara, inferior-superior, kuat-lemah, senior-yunior atau karena sebab perbedaan atau posisi sosial yang membedakan.

” Tidak bisa dipandang sederhana dan wajar sekalipun antaranak karena bully adalah perilaku awal dalam tindakan asosial, melawan norma dan hukum serta pelanggar HAM. Sekolah harus menjamin rasa aman dan nyaman terhadap pergaulan warganya “, tegas M.Rifai.

Memperjelas penyampaianya M. Rifai berargumen bahwa sekecil apapun tindakan yang mengarah pada tindakan bully dicegah secara dini. Peran guru dan khususnya guru BK harus selalu pasang telinga terhadap fenomena kemungkinan munculnya kelompok-kelompok genster di antara siswa. Bila perlu guru BK atau pembina kesiswaan pasang ‘intel’ atau mata-mata sebagai informan jika ada gejala penyimpangan perilaku negatif dalan bentuk apa pun.

Di sisi lain M. Rifai memaklumi Guru tidaklah mungkin detil mengikuti kegiatan siswa sampai yang kecil-kecil. Pekerjaan utama guru sendiri sudah padat beban. Karena itulah guru harus dengan banyak cara bisa mengeliminasi kasus-kasus yang mengarah ke bullying. Masih menurut Kepala SMA Negeri Taruna Santri Darussholah ( TRASANDA ) Singojuruh yang juga selaku Fungsionaris PK PGRI Biro Advokasi dan Penegakan Kode Etik Profesi Guru itu. Bahwa rentan pembullyan terjadi antarsiswa sebaya itu di level SLTP. Sementara bentuk penyimpangan perilaku rentan negatif di level SLTA adalah pergaulan seks bebas dan narkoba.

Di penghujung tanggapannya M. Rifai geber bahwa Pendidikan karakter yang dimaksud untuk menumbuhkan rasa empati dan simpati antarsesama diawali dari membangun culture sekolah yang kondusif, toleransi, saling menghormati antarwarga sekolah. Membiasakan suka saling memuji, menghargai perbedaan dan menumbuhkan sikap solidaritas kekeluargaan yang kuat. Tentu dimulai dari sikap positif guru terhadap siswa. Guru suka memuji, mau mengerti kebutuhan siswanya, mengakui perbedaan selera dan keunikan masing-masing siswa.

“Istilah hukuman atau punishment jauhkan dari cara layanan pendidikan. Budayakan pemberian reward atau pujian sekecil apapun yang positif terhadap siswa”, sarannya.

Pakar pendidikan lulusan Short Course Universitas Al Fatih Turkey ini, memandang bahwa selama ini yang terjadi sebuah kekeliruan nyata bahwasanya mendidik efektif itu karena ketat dan hukuman.

“Benar memang efektif dan tampak baik berhasil tetapi tidak secara substatif dan fakta. Proses pendidikan tidak boleh menghasilkan kondisi seolah-olah penuh dengan kesemuan, yang hakikatnya kontra produktif “, tandasnya.

Sebagai penutup M. Rifai paparkan kalau keberhasilan pendidikan tetap menjadi tanggung jawab bersama. Tidak mungkin hanya mengandalkan kekuatan guru di sekolah. Pendidikan sebuah gerakan yang menjadi proyek bersama antara orang tua, masyarakat dan Pemerintah. Tanpa penyadaran itu, berapa triliyun dana APBN yang digelontorkan akan banyak yang mubazir. Keberhasilan pendidikan akan lebih akseleratif jika semua pihak bertanggung jawab, dikeroyok bareng. (rdy35).

0Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed