oleh

Di Duga Polsek Paiton Abaikan KUHAP Pasal 18

Probolinggo Oposisi, _ Bisa benar pepatah ini “Hukum tajam kebawah tumpul ke atas”. Seperti halnya yang di alami oleh keluarga ibu Ramina (55) warga desa¬† Sidodadi kecamatan Paiton kabupaten Probolinggo.

Terkejut dengan kedatangan beberapa orang yang tidak di kenal untuk mencari anak pertama dari dua bersaudara, Hendri (19) dibawa paksa sama orang tidak jelas selasa (11/12), ibu Ramina miris dengan kejadian didepan mata dirumahnya sendiri, pagi jam 07:00 wib,

Ada tiga laki laki tamu yang dua orang tidak dikenali oleh ibu Ramina. Namun yang satu orang di kenali bernama Rasidi alias ” Di Gobang”. Tanpa permisi langsung merasek masuk kerumah dan sangat tidak beretika. Dan memaksa untuk membangunkan Hendri, karena bu Ramina sudah tua kaget dan menuruti perintahnya.

Dan orang orang tersebut membawa Hendri sebentar katanya, hingga Rabu 12/12/18 hendri tak kunjung pulang. Lantas ibu Rasmina kebingungan dan mendatangi ke mantan kades Masduki untuk minta bantuan terhadap kejadian yang di alaminya.

Ibu Rasmina ketemu Di Gobang menanyakan keberadaan Hendri, Di Gobang memberitakukan bahwa hendri tidak di ketahui dimana sekarang keberadaannya.

Dengan pontang panting ibu Rasmina mendatangi kades Hartono untuk minta bantuan. “anak anda sekarang di polsek Paiton, ibu pulang saja dan makan yang enak” tegas kades.

Hasil investigasi Team BeritaOposisi mendatangi perangkat desa dan di temui Sekdes Khoirul Soleh, ” memang Hendri pernah membuat pernyataan damai terkait pencurian hp tertanggal 11/12/18, dan damai secara kekeluargaan” , jelas pak Sekdes

Setelah dilakukan investigasi ke polsek Paiton ternyata Hendri diduga kasus yang lain, terduga dengan kasus curanmor.

Kapolsek Paiton Akp Ridwan menjelaskan, “memang polsek punya data data dari reskrim terkait laporan curanmor pada tahun 2016, dengan ciri ciri pelaku yang sama”, terang Kapolsek Paiton.

Tanpa sehelai surat Sprin-Dah polisi membawa Henri dari rumahnya, perlu di ingat Henri bukan salah satu DPO Kepolisian.

Saat di konfirmasi masalah surat penangkapan Kapolsek menjawab surat menyusul.

Kejanggalan ini membuat bu Ramina menyadari. “orang sudah tua, didatangi tamu pagi pagi membawa anak saya gak tahu kalau itu polisi. kalaupun polisi kenapa tidak menunjukkan surat surat sebagaimana polisi menangkap orang”, isak tangis Bu Ramina

Dengan gegabah polsek Paiton diduga melanggar KUHAP pasal 18 tentang pengkapan sebuah perkara. Namun ketidak tahuannya bu Ramina tentang Hukum hingga saat ini bu Ramina minta keadilan dan hukum yang sesuai aturan di kepolisian.  (red/A*)

1Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 comment

News Feed