oleh

Diduga Konsumen Nasabah Bank, Di Tipu Oleh Oknum Pegawai Bank

Dompu NTB Oposisi,_ Kasus Pengalihan Hak atas tanah dan bangunan, sering kali terjadi ditengah tengah kehidupan masyarakat kita, tidak jarang kasus semacam ini, melibatkan sejumlah unsur baik itu pemerintah maupun oknum badan usaha milik swasta maupun badan usaha milik negara (BUMN) sebagai dalangnya (26/10/18).

Sepeti halnya kasus dugaan pengalihan hak atas tanah dan ruko milik Mariam (45), warga kelurahan Karijawa yang melibatkan salah satu nama karyawan Aktif PT. Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Dompu, inisial ER warga kelurahan doro tangga kecamatan Dompu, kabupaten Dompu, propinsi NTB, disinyalir sebagai aktor utama dalam melakukan pengalihan hak milik sertifikat tanah atas nama Mariam.

Kasus dugaan pengalihan hak yang ditenggarai lantaran adanya tawaran pinjaman uang senilai 40 juta, yang ditawarkan oleh Er kepada mariam Tanggal 8 april 2011 silam. Menjadi biang keretakan hubungan keduannya, proses pinjam meminjam uang dengan jaminan sertifikat tanah rupanya menjadi bom waktu bagi sang peminjam sekaligus pemilik Nama dalam sertifikat jaminan tersebut, tanah dan ruko pemilik diam  diam dialihnamakan menjadi nama pemberi pinjaman (ER.Red.).

Ironisnya, pengaliha nama sang pemilik diperkuat dengan adanya akta perikatan jual beli nomor 10 dan akta kuasa menjual nomor 11, tanggal 09 tahun 2011 silam, yang diterbitkan oleh Lalu Andi Supriayandi SH,Mkn selaku NOTARIS dan pejabat pembuat akta tanah ( PPATK), Dua Akta yang diterbitkan oleh PPATK tersebut diduga kuat merupakan hasil persekongkolan jahat (Konspirasi) antara ER Dan PPATK.

Tindakan tersebut, Membuat sang pemilik geram dan angkat bicara dihadapan sejumlah awak media pada senin Kemarin, tepatnya dipelataran kantor pengadilan negeri kabupaten Dompu propinsi NTB.

Dalam pernyataan persnya, Mariam menyebutkan tentang adanya pengalihan hak yang dilakukan secara sepihak oleh Er, tindakan tersebut sungguh tidak dapat dibenarkan sedikitpun, sebab asal muasal masalah yang terjadi, berawal lantaran adanya tawaran pinjaman uang, senilai Rp.40 juta yang ditawarkan oleh Er pada tahun 2011 silam, bukanlah perikatan jual beli  pinjaman uang itu terjadi tepatnya pada tanggal 8 april 2011, bukti kwitansinya ada kok, tuturnya Mariam.

Mariam menambahkan, ER sudah seperti kakak bagi saya, keakraban yang kami bangun selama ini layaknya saudara kandung, bukan berarti hak saya bisa dirampas begitu saja, Lihat ini, darimana datangnya akta kuasa menjual dan akta perikatan jual beli padahal saya tidak pernah memberikan kuasa pada ER, lebih – lebih menghadap Notaris untuk membuat akta, jelas ini merupakan persekongkolan kata mariam”.

Sementara itu, ER, yang diketahui Bekerja Pada PT. BAnk Rakyat Indonesia tersebut, setelah disambangi oleh awak media pada rabu 17/10/18 minggu kemarin, guna dikonfirmasi mengenai pasal keterlibatan dirinya tentang adanya pengalihan Hak Tersebut, dirinya Enggan untuk berkomentar dan menolak untuk bertemu dengan awak media. (Alva).

6Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed