oleh

Doesoen Kakao Menarik Perhatian Wisatawan Lokal Bahkan Internasional

Berita Oposisi.co.id

Suasana asri penuh dengan pemandangan alami sejak pintu masuk area Perkebunan PTPN XII Kalirejo menuju Kebun Kendenglembu sudah menjawab kenyamanan dan memanjakan setiap wisatawan yang datang. Tak ayal bila Doesoen Kakao yang ada di Kebun Kendenglembu Afd. Pagergunung jadi langganan wisatawan lokal bahkan internasional.

Tata area yang apik dan sajian kuliner yang serba berbahan coklat jadi faforid pengunjung. Namun memanjakan selera di Resto Cafe Doesoen Kakao juga tersedia menu – menu Kiliner yang lainnya. Menurut salah satu petugas Resto Cafe nama panggilan Ris. Pengunjung yang datang ke Doesoen Kakao tidak pernah putus saban harinya. Dari lingkungan pendidikan juga sering datang dalam rangka mengedukasi siswa anak didiknya. Banyak hala dari mereka yang ingin diketahuinya di Doesoen Kakao. Termasuk salah satunya kalau dari dunia pendidikan tertarik mendatangi makam / kuburan anak keturunan Belanda yang ada di sisi belakang Resto Cafe Doesoen Kakao. Yang jelas keinginantahu mereka tentang sejarah keberadaan makam / kuburan anak keturunan Belanda sangat tinggi sekali.

History atau sejarah masa pendudukan penjajah Belanda di Bumi Belambangan Banyuwangi satu persatu mulai terkuak. Hal tersebut dapat dipelajari dengan ditemuinya peninggalan – peninggalan yang ada di suatu tempat. Contoh sebuah makam /kuburan anak Belanda yang memiliki usia yang cukup tua  dijumpai di Desa Karangharjo Kec. Glenmore Kab. Banyuwangi tepatnya di dalam area Doesoen Kakao Perkebunan PTPN XII Kendenglembu.

Pada batu nisan bertuliskan ” Hier Rust Ons Aller Lieueling BROERTJE HERSCHEIT Geb : 23 Maart 1919 Overl : 26 September 1922 “. Usia makam / kuburan keturunan Belanda kurang lebih sudah 97 tahun dari 1922 ke 2019 sekarang. Menurut cerita rakyat diyakini bahwa BROERTJE HERSCHEIT meninggal di usia 3 tahun, karena tercebur kolam yang letaknya hanya berjarak sekitar 20 meter dari makam/kuburannya juga ada di area Doesoen Kakao se dalam 5 meter. Diantara makam/kuburan dengan kolam peninggalan Belanda terdapat sumur tua dan pompa air jadul.

Sementara Meneger Kendenglembu yang akrab dengan sapaan nama Hendi saat ditemui media. Menyampaikan keinginannya ke depan, Doesoen Kakao akan di desaine lebih memunculkan suasana jaman dahulu. Karena di sekitar area Doesoen Kakao ada situs – situs sejarah peninggalan masa penjajahan Belanda. Setidaknya keberadaan Wisata Doesoen Kakao mengisnpirasi pengunjung yang datang untuk bisa mengenang atau tidak melupakan sejarah. Dan beberapa kali makam / kuburan anak keturunan Belnda itu dikunjungi oleh orang Belanda yang mengaku masih kerabatnya.

Meneger Hendi mengaku sudah mulai mencari tahu sumber – sumber informasi tentang sejarah bagaimana penjajah Belanda masuk dan menduduki wilayah yang kemudian mendirikan sebuah usaha perkebunan di Kendenglenglembu. Menurut Hendi alur sejarahnya jelas bak gayung bersambut dengan keberadaan kebun Malangsari. Hal tersebut dimaksutkan pada moment – moment tertentu di Doesoen Kakao ada sebuah pagelaran khusus seni budaya yang ada di Banyuwangi dan salah satunya ada tampilan drama kolosal masa penjajahan Belanda.

Hanya saja yang jadi kendala Doesoen Kakao masih belum memiliki Ampitheater tempat khusus yang untuk sebuah pementasan besar – besaran. Dan untuk itu Meneger Hendi masih berupaya bagaimana bisa terwujud program dan gagasan cemerlangnya itu. Bahkan tidak gemen – gemen konsep Ampitheater yang diinginkannya, suasananya sambung sekali dengan kondisi Doesoen Kakao. (rdy35/ktb).

0Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed