oleh

ISLAM NUSANTARA DAN TRADISI MUDIK

Oleh : Mochammad Rifai

Berita Oposisi.co.id

Sebuah khazanah kehidupan muslim Indonesia, khususnya Jawa, tradisi menjadi bagian dari kehidupan sosial saling melengkapi antara Islam dan budaya lokal. Akulturasi budaya sungguh memberikan nilai tambahan sehingga Islam Indonesia berbeda dengan negara lain dari sisi kehidupan interaksi sosial.

Sisi historis memang penyebaran agama Islam memanfaatkan tradisi dan seni budaya setempat. Cara dan strategi penyebaran Islam di hampir seluruh tanah air, nyaris tidak pernah terjadi gesekan yang berlanjut dengan kekerasan. Saling menerima dan mengisi dari sisi budaya tidak saling mengganggu hal yang substansial. Menunjukkan bahwa Islam agama damai dan bangsa kita bangsa yang terbuka dan mudah beradaptasi.

Kepribadian bangsa kita ini dikenal budaya local genius. Artinya kemampuan menerima hal baru (dari luar) dan tetap mempertahankan nilai asli lokal. Rahmatan lilalamin. Itulah Islam. Kalau ada tengara komunitas atau golongan yang menamakan diri kelompok militan Islam suka memaksa kehendak dan menghalalkan cara kekerasan pastilah tindakan ahistoris.

Islam agama damai dan toleran. Tradisi mudik juga bagian dari tradisi yang terbangun dari pelaksanaan ritual bulan Ramadhan. Akhir dari bulan kemenangan yang ditandai dengan perayaan Hari Raya yang familier dengan sebutan ” riyoyo “ atau ” bada “ merupakan moment istimewa. Mudik tidak sekedar pulang kampung tetapi ada nilai sakralitasnya. Sarat dengan nilai transendental yang diwujudkan dalam bentuk  antara lain mengunjungi makam leluhur, sungkem dengan orang tua dan tetua, silaturahim dengan sanak saudara, kawan dst.

Mudik seolah menjadi ritual tersendiri sekalipun dengan biaya tinggi dan bahkan penuh risiko. Lain itu juga faham primordial ini akan memperkuat nilai kebangsaan. Moment Hari Raya moment nasional tanpa muatan kepentingan (politik) kecuali benar-benar murni sosial, kekeluargaan dan religi menyertainya. Secara sosiologis, mudik membawa dampak ke banyak hal termasuk nilai-nilai baru dari kota ke desa, dari luar negeri ke dalam negeri.

Terlepas negatifnya akan mendorong dinamika perubahan dan mindset secara tidak langsung. Pengaruh dalam hal ekonomi jelas. Inilah sosial Indonesia dan inilah muslim Indonesia menjadi  Islam Nusantara itu bukan aliran agama baru. (rdy)

0Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed