oleh

Jajakan Hasil Kerajinan Ngontel PP Banyuwangi Sampai Perbatasan Pasuruan – Surabaya

Banyuwangi Oposisi.co.id

Sapi’i nama panggilannya warga Desa Gintangan Kec. Blimbingsari Banyuwangi. Mengaku pernah lakoni jajakan hasil kerajinan anyaman bambu berupa ” Welasah ” istilah bahasa Osingnya. Kendarai sepeda genjot ( ontel ) dengan bawaan sebanyak 200 ” Welasah ” telusuri Jember, Lumajang, Probolinggo, sampai perbatasan Pasuruan dan Surabaya.

Cerita perjuangan bertahan dari hidup itu disampaikan oleh Sapi’i saat ditemui di rumahnya yang kebetulan sedang tandangi kerajinan anyaman bambu jenis ” Welasah ” Jumat 01/02/2019. Kepala Desa Gintangan sengaja ajak keliling awak media temui beberapa warganya yang tumpukanĀ  hidupnya dari buat kerajinan. Salah satunya adalah Sapi’i yang sudah tak gagah lagi sekira 65 tahun usianya.

Dikonfirmasi awak media, Sapi’i dengan kepolosannya menceritakan seputar pengalaman sebagai pengrajin “Welasah”.

” Saya sejak tahun delapan puluhan ( 1980 ) sudah menekuni kerjaan buat anyaman Welasah ini, demi jasil kerjaan saya ini laku terjual, dulu saya harus menjajakan Welasah ini keluar masuk kampung. Bahkan saya pernah bawa sebanyak dua ratus ( 200 ) Welasah pakai sepeda ontel, saya jajakan mulai dari rumah ini terus ke Jember, Lumajang, Probolinggo, sampai perbatasan Pasuruan dan Surabaya. Sekarang karena sudah tua paling kuatnya hanya bawa delapan puluha ( 80 ) dan itu pun tidak jauh hanya ke Pasar Galekan saja paling jauh, “ cerita Sapi’i.

Ditambahkan oleh Sapi’i, katanya sekarang tidak sengoyo dulu jajakan hasil kerajinannya. Lantaran katanya sejak kerajinan Desa Gintangan oleh Kepala Desanya sering diadakan festival. Hasil kerajinan Gintangan terkenal sehingga pembeli dan pemesanĀ  banyak yang datang sendiri ke Desa Gintangan. Digaris bawahi oleh Kades Gintangan Rusdiana,

” Makanya saya adakan festival itu maksutnya agar potensi yang ada di Gintangan ini lebih dikenal oleh publik. Dengan harapan meningkatkan daya tarik konsumen, sehingga warga yang sumber penghidupannya dari buat kerajinan ini lancar pendapatannya mas. Bagi warga yang punya lahan pertanian mungkin tidak seberapa susahnya penuhi kebutuban hidupnya. Tapi bagi yang tidak punya lahan pertanian kan harus kita pikirkan mas, maka itu saya bekerjasama dengan BLK untuk terus mengadaka pelatihan – pelatihan. Sehingga potensi kerajinan di Gintangan ini terus berlanjut jadi penopang kebutuhan masyarakat saya mas, “ kata Kades Gintangan Rusdiana.

Ke depan Kades Rusdiana akan lakukan branding dan juga berencana dirikan semacam lapak – lapak yang mana hasil kerajinan akan terpajang di sepanjang jalan raya Desa Gintangan. (rdy35/eta).

0Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed