oleh

Kades 51.17 Hanya Forum Silaturrahmi Bukan Kelompok Tandingan Askab

Banyuwangi Oposisi.co.id

Menepis informasi yang berkembang bahwa organisasi besar di Banyuwangi yaitu Asosiasi Kepala Desa Kabupaten Banyuwangi ( Askab ) pecah. Pertemuan para Kepala Desa di kediaman Kades Sumberberas Kecamatan Muncar Sri Purnanik pada Selasa 23/10/2018 siang tadi. Adalah pembuktian bahwa issue perpecahan di tubuh Askab tidak pernah ada.

Issue tersebut dihembuskan pasca kegiatan Pemilihan Kepala Desa serentak di Banyuwangi pada tahun 2017 yang diikuti oleh sebanyak 51 Desa. Yang mana para Kades terpilih sebanyak 51 orang tersebut mungkin merasa satu nasib dan seperjuangan pada gelangang politik Pilkades. Kemudian menamakan diri kelompok 51.17 yang artinya 51 Kepala Desa terpilih pada Pilkades tahun 2017. Yang selanjutnya untuk melanggengkan hubungan emosional perasaan senasib seperjuangan itu dengan cara mengadakan pertemuan bulanan yang dikemas lewat arisan dan anjangsana.

Hal itu ditegaskan oleh Kades Sumberberas Sri Purnanik pada forum yang juga menghadirkan Pengurus Askab itu.

” Saya tegaskan di sini bahwa kelompok 51.17 bukan kelompok tandingan. Sebutan kelompok 51.17 hanya sebuah sebutan bahwa kami pada tahun yang sama adalah senasib seperjuangan menuju kemenangan dalam politik Pilkades. Pertemuan – pertemuan yang dilakukan selama ini hanya sebatas memperkuat tali silaturrahmi berbagi cerita dan pengalaman. Untuk menjaga kekompakan didalamnya kami selipkan kegiatan arisan, ” cetus Sri Purnanik selaku tuan rumah yang juga bagian dari kelompok 51.17 itu.

Sementara Ketua Askab Mura’i Ahmad dalam sambutannya mengapresiasi forum silaturrahmi yang digagas oleh para Kades kelompok 51.17.

” Saya mewakili Pengurus Askab menyampaikan apresiasi atas gagasan rekan – rekan Kepala Desa kelompok 51.17 punya naluri yang tajam untuk berkumpul seperti ini. Saya khawatir ada pihak – pihak luar yang menunggangi membawa kepentingan dan sengaja memecah keberadaan organisasi induk kita yaitu Askab. Karena bila kelompok 51.17 ini jadi kelompok tandingan, maka jangan lupa sebentar lagi ada sebanyak 138 Desa akan melakukan pemilihan Kepala Desa serentak yang artinya akan ada 138 Kepala Desa terpilih. Apakah kita akan menandingi keberadaan kelompok yang lebih besar itu ?…saya kira jangan sampai terjadi. Oleh karena itu mari kita tetap komitmen bersama dalam satu wadah organisasi induk kita yaitu Askab. Sehebat apapun kita kalau kecil – kecil terpecah – pecah akan hancur, ” lontar Mura’i Ahmad Ketua Askab.

Dipaparkan juga oleh Mura’i Ahmad bahwa perjuangan Askab tentang Desa selama ini tidak main – main. Sampai ikutan aksi demo ke Jakarta demi bagaimana dana desa, bagaimana Peraturan Pemerintah tentang Tanah Kas Desa/Bengkok dan PP No. 47 Pasal : 100. Dan hasilnya yang sekarang dirasakan bersama. Ditegaskan pula bahwa setiap Kepala Desa di Banyuwangi sejak dilantik secara otomatis adalah bagian dari Askab.

Secara panjang lebar Mura’i Ahmad pada kesempatan itu menjelaskan bagaimana cara berorganisasi yang baik. Bagaimana membangun kesadaran berorganisasi dan lain sebagainya. Harapannya pada pertemuan – pertemuan selanjutnya tingkat kehadiran Kepala Desa lebih kompak lagi. Menyinggung soal sejauh mana proteksi Askab terhadap Kepala Desa yang kesandung hukum. Mura’i Ahmad selaku Ketua Askab menjelaskan bahwa Askab adalah Asosiasi Kepala Desa bukan lembaga hukum. Namun bila ada persoalan hukum menimpa Kepala Desa. Askab berupaya mendampingi, mengawal agar hak – hak pembelaan dalam hukum atas dirinya bisa diperoleh dan terpenuhi.

Selanjutnya forum menjelma jadi sebuah ajang diskusi bersama yang mana kepada beberapa Kepala Desa yang hadir. Diberi kesempatan untuk menyampaikan ide – ide atau hal – hal apa saja yang diharapkan dari keberadaan Askab ke depan. Forum menjadi hidup dan semakin berisi dan berakhir dengan ramah tamah makan bersama sambil menikmati alunan Musik Organ Tunggal. (rdy35).

1Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed