oleh

KASTANISASI PENDIDIKAN VS SISTEM ZONASI PPDB

Oleh : Sudarman Kepala SMPN 1 Cluring

Sekretaris PGRI Kab.Banyuwangi

Berita Oposisi.co.id

BANYUWANGI,_ Menarik juga membaca sekaligus membandingkan tulisan 2 tokoh pendidikan di Indonesia.Yang satu dari Universitas PGRI Adi Buana Surabaya (Gempur Santoso). Dan yg satunya dari Universitas Gajah Mada (BP Widyakanigara )

Apa menariknya…?
Menunya sama, bahan bakunya sama, mestinya aromanya sama dan rasanya sama.Tapi karena kokinya berbeda dari menu dan bahan baku yang sama justru rasanya ikut berbeda.

Pertanyaanya apa bahan bakunya…? Yaitu Sistem Zonasi PPDB 2019. Yang satu menulis surat terbuka pada Presiden dengan judul Sistem Zonasi gagal total dengan alasan sistem Zonasi adalah metoda salah urus dengan menjungkir balikan kebebasan persaingan bebas siswa. Dan yang Gempur Santoso menulis bahwa sistem Zonasi adalah ” perlawanan ” terhadap ketidak adilan pendidikan.

Selamat berargumen kepada yang terhormat kedua tokoh tersebut di atas, anda berdua adalah pahlawan dan pemikir pendidikan. Saya sebagai Kepala SMPN 1 Cluring sekaligus Sekretaris PGRI Kab.Banyuwangi ingin menyampaikan ucapan “Bersama tidak harus sama, yen podo ojo dibedo – bedo, nanging yen bedo ojo dipodo – podo”

“Saya pernah menulis sejarah kurikulum Indonesia ketika awal mulainya di berlakukanya K13. Saya ingin mencuplik sedikit saja yang terjadi saat jaman sebelum merdeka, yaitu metode pembelajaran sesuai kurikulum jaman penjajahan. Ketika itu pendidikan di jaman penjajahan ada 3 level yaitu :
1. High Class untuk anak dari keluarga penjajajah belanda. Anak – anak Belanda bisa sekolah mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. 2. Midle Class, Level ini diperuntukan untuk anak – anak asing seperti Cina dan India. 3. Low Class, inilah level untuk pribumi. Untuk anak – anak kita, yang hanya bisa sekolah sampai 3 tahun dengan sebutan sekolah desa.

Kalau Bung Karno bisa sekolah tinggi karena saat itu beliau di “rekom” oleh HOS Cokro Aminoto. Pada kondisi seperti itu┬áPondok Pesantren menjadi “Pemenang “. Karena Pondok Pesantren menjalankan pendidikan dengan bahasa Arab yang tidak di lmengerti bahasanya oleh penjajah Belanda.

Begitu terasa bagaimana penghinaan dan pelecehan jaman penjajah dulu dengan memberlakukan KASTANISASI PENDIDIKAN. Tanpa terasa dan tanpa menyadari belakangan ini kita juga meng – kasta – kan pendididikan di Indonesia dengan sebutan Sekolah favorit, Sekolah biasa/Sekolah potensial dan sekolah satu atap. Sistim Zonasi adalah ” perlawanan ” terhadap kastanisasi pendidikan.

“Saya yang 5 tahun terakhir menjadi Kepala Sekolah di lembaga yang posisinya pada “kasta tertinggi” menjadi ” malu ” ketika setiap tahun mendapat apresiasi akan prestasi yang sebetulnya akan bisa diperoleh oleh siapa saja jika berkesempatan menjadi Kepala Sekolah di SMPN 1 Cluring. Filosopinya : “Besar melahirkan besar adalah wajar, Besar melahirkan kecil adalah kedunguan, Kecil melahirkan besar adalah kecerdasan “. (rdy35).

0Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed