oleh

M. Rifai, M.Pd : ” Korban Bullying Ternyata Siswa Berkebutuhan Khusus “

Berita Oposisi.co.id

Inilah penjelasan M. Rifai, M.Pd terkait kasus bullying di SMP Negeri 1 Songgon Banyuwangi yang viral di medsos. Video bernuasa bullying (kekerasan) beberapa hari lalu yang melibatkan siswa di SMP Kec. Songgon itu ternyata siswa ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Anak korban kekerasan dalam video yang sempat viral itu, ditengarahi ” sindrom autis “. Ada yang beda ( kenormalan ) dalam bentuk perilaku. Teman-teman sebaya ( khususnya perempuan ) kerap terganggu, tidak nyaman karena ulahnya.

“Misalnya, terang teman sebayanya,¬† dia menggiring teman-temannya perempuan ke dalam kelas, oleh dia dikunci dari luar. Karena sering mengganggu itulah sehingga di antara teman lain (kakak kelasnya) memberikan pelajaran dengan cara ditendang “, ujar M. Rifai sampaikan informasi yang didapat dari salah satu teman sebaya korban bulliying. ” Inilah bagian dari kasus sekolah normal yang digabungi oleh siswa ABK “, tandasnya.

Mengapa bisa terjadi…?, sorot M. Rifai, M.Pd. selaku Fungsionaris PK PGRI Biro Advokasi dan Penegakkan Kode Etik Profesi Guru. Yang juga sebagai Kepala Sekolah SMA Negeri ” TRASANDA ” Singojuruh. Pertanyaan tersebut dijawabnya sebagai berikut.

“Pertama belum ada sosialisasi tentang kondisi teman sebaya siswa yang berbeda dan dalam layanan khusus. Kedua belum optimal sistem pendampingan dan pengasuhan terhadap layanan siswa yang berbeda. Ketiga barangkali belum ada informasi tentang keberadaan siswa ABK dari orang tua kepada pihak manajemen sekolah “.

Di sisi lain M. Rifai mengatakan bahwa, sementara Pemerintah dengan kebijakan sekolah inklusi, mewajibkan sekolah reguler menerima Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK ) tanpa syarat. Konsekuensinya sekolah harus menyediakan guru dan fasilitas yang dibutuhkan oleh siswa yang tergolong ABK. Diklat dan berbagai kegiatan ilmiah lainnya untuk menindaklanjuti kebijakan pemerintah itu sudah dilakukan. Sekolah dan guru tertentu sudah disiapkan untuk melakukan praktik layanan khusus bagi siswa yang berbeda. Namun masih saja ada kejadian-kejadian kecil yang melibatkan siswa ABK karena teman lingkungannya belum memahami bagaimana menyikapi temannya yang berbeda.

“Kasuistik semacam yang terjadi dalam video itu merupakan masukan semua pihak khususnya para penyelenggara pendidikan iklusi. Setiap kelas yang ada siswa ABK seharusnya teman sebayanya diberi pemahaman dan juga guru pengajarnya. Hal-hal yang harus diterima dan dimaklumi oleh teman-temannya dan guru disosialisasikan lebih awal sebelum layanan kegiatan belajar mengajar dimulai “, imbaunya.

Selanjutnya M.Rifai juga soroti tentang penggunaan medsos oleh anak sekolah, berharap agar pihak sekolah mensosialisasikan kepada warga di lingkungan sekolah ( siswa ) tidak membiasakan merekam kejadian-kejadian atau objek dalam bentuk video atau foto karena akan rentan menjadi viral dan menjadi berita  negatif. Juga tidak membiasakan menyebarkan gambar, video atau informasi-informasi yang tidak mengedukasi, tidak menghibur dan cenderung menjadi sumber fitnah. Tidak menyebarkan berita atau informasi hoax, tidak jelas sumber dan kebenarannya.

Dalam hal ini M. Rifai juga singgung perlunya orang tua terlibat dan peduli tidak hanya lempar tanggung jawab kepada guru.

” Begitulah, fakta bahwa melayani pendidikan tidaklah mudah. Keterbatasan kemampuan guru harus dilengkapi oleh kepedulian semua pihak utamanya orang tua. Tanpa keterlibatan para pihak, ketercapaian tujuan pendidikan akan banyak mengalami kendala. Sementara kebijakan pemerintah pusat, fokus ke pengembangan kualitas SDM bangsa “.

Menyinggung tentang kualitas bangsa, M. Rifai mengatakan bahwa membahas tentang pembangunan kualitas bangsa, pendidikan yang akan menjawabnya. Kualitas bangsa menggambarkan kualitas pendidikan dan sebaliknya. Yang pada akhirny M. Rifai meyampaikan sebuah ungkapan, ” Kualitas pendidikan menggambarkan kualitas bangsa “, pungkasnya.

Gayung bersambut, apa yang disampaikan M.Rifai sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Songgon saat dikonfirmasi Senin 19/8/2019. Jadi sebuah pembenaran bahwa korban bullying inisial ” FKR ” siswa kelas 7 perlu perhatian khusus. Oleh karena itu Kepala Sekolah tidak mengelak telah kecolongan, karena tingkat pengawasan para guru sudah maksimal. Hanya pada saat kejadian pada jam istirahat, dewan guru disibukkan pengkondisian kegiatan Agustusan. Berikut dijelaskan oleh Kasek H. Samsuddin Ali bahwa para siswa yang terlibat terutama pelaku dan korban sudah dikoordinasikan dengan Dinas untuk dalam beberapa hari diikutkan pendidikan di Sekolah Luar Biasa ( SLB ) terdekat. Tak hanya itu, Kasek H. Samsuddin Ali mengaku memberikan sangsi tapi yang mengedukatif dalam pengawasan dewan guru baik pelaku maupun korban untuk mengaji dan hatam baca Qur’an sampai lulus. Karena apapun alasannya sekolah tidak diperkenankan mengeluarkan siswa. Dan dalam hal ini pihak orang tua siswa pun diminta kerjasamanya mendukung langkah sekolah demi kebaikan dan kelangsungan pendidikan anaknya.

Termasuk masalah siswa pegang Hp sudah dilarang yang mana orang tua siswa pun juga sudah diberi arahan agar untuk tidak mengijinkan anaknya bawa Hp ke sekolah. Tata tertib yang harus dipatuhi oleh siswa juga ada yang mana ditanda tangani oleh maaing siswa saat pertama kali masuk jadi siswa SMP Negeri 1 Songgon. Yang menarik dan sejalan dengan apa yang disampaikan oleh M. Rifai bahwa korban adalah Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK ). Ternyata menurut Kasek H. Samsuddin Ali, korban ( FKR ) di sekolah kesukaan bergaulnya atau memilih berteman dengan siswa perempuan dan rata – rata adalah kakak kelasnya. Yang mana siswa ” FKR ” tersebut punya catatan khusus di guru BK nya.(rdy35).

0Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed