oleh

“MENENUN MERAH PUTIH”, Ada Penenun Cilik Di Festival Budaya Lamaholot.

-Budaya-38 views

Flotim beritaoposisi.co.id.

Ada yang menarik di perhelatan Festival Lamaholot, di Pantai Ina Burak, Desa Beda Lewun, Kecamatan Ile Boleng, Flores Timur, Minggu, 15/9/2019.

Helatan ini menampilkan 40 penenun cilik dan 30 pemintal benang asal SD Negeri Boleng. Pada umumnya berusia 10 sampai 12 tahun, namun di salah satu sudut, nampak seorang putri cilik dengan jari mungilnya terlihat lincah sedang menenun sarung yang bermotif Bendera Merah Putih. Dia adalah Aisa Lamawuran.

Sejak Kapan Aisa mulai belajar menenun? Ditanya demikian, putri cilik berkulit sawo ini mengatakan sejak kelas 2 SD dirinya telah memulainya. Aisa menambahkan, menenun adalah sebuah warisan leluhur yang harus dijaga sehingga tidak ada salahnya kalau dirinya terus belajar menenun dari sang ibunda.

Maryati Tokan, guru pengasuh pelajaran muatan lokal tenun ikat di SD Negeri Boleng, dalam keterangannya menyebutkan, umumnya keterampilan yang mereka miliki ini sudah ada dasarnya dari lingkungan keluarga.

“Pekerjaan pokok orangtua mereka adalah menenun, sehingga mereka sudah diajarkan sejak kecil. Di sekolah kita hanya melakukan bimbingan lanjutan saja. Sejak dikembangkan menjadi mata pelajaran muatan lokal ini, mereka sangat mahir dalam menenun”, katanya.

Selain menampilkan 40 penenun, SD Negeri Boleng juga menampilkan tahap awal proses pembuatan sarung mulai dari memintal benang dan mewarnai benang.

“Untuk pemintal, kita juga sertakan anak-anak yang berumur antara 7 hingga 12 tahun. Ini bukan wanita saja, tetapi kita libatkan juga yang laki-laki, ikut ambil bagian dalam proses ini”,kata Tokan.

Bupati Flotim, Antonius Hubertus Gege Hadjon, ST, menyaksikan langsung kelihaian para siswi-siswi SD ini. Dirinya mengungkapkan rasa bangganya terhadap kelihaian serta semangat siswa siswi SD negeri Boleng.

“Budaya Lamaholot yang salah satunya adalah menenun yang hampir ditinggalkan oleh anak-anak muda masa sekarang, akhirnya masih tetap dipertahankan dengan upaya yang dilakukan saat ini. Tentunya pemerintah ke depan, akan memikirkan langkah konkrit apa yang mestinya didorong untuk mendukung kebijakan ini”, kata Bupati Anton terhadap media ini.

Lebih lanjut, Bupati Anton mengatakan, untuk keberlanjutan dari perhelatan ini, tentunya akan ada upaya upaya pemerintah untuk melindungi hak cipta tenun Lamaholot serta memberikan pendampingan khusus terhadap penggiat tenun ikat.

“Ini merupakan upaya untuk memperkuat Kebudayaan Lamaholot demi pemajuan kebudayaan di masa mendatang” kata Bupati Anton. (*Atten)

0Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed