oleh

MENGENANG MUKSANYA RADEN LODRO JAYA

-Budaya-22 views

BUDAYA

Hadir dalam acara bersih desa Tawun ‘ Kedu Beji ‘ BUDI SULISYONO ( BUPATI NGAWI ) DAN ONY ANWAR ( WABUP NGAWI )

Beritaoposisi .co.id – Ngawi . Siapakah Raden Lodro Jaya ?  Alkisah di era kejayaan Kerajaan Pajang  pada abad 15. Ki Ageng Ketawang setelah membuka hutan , menetap bersama keluarganya dan membuka lahan pertanian di dekat sumber air yang tidak pernah kering , konon lokasi itu belum bernama akhirnya oleh Ki Ageng Ketawang di beri nama Tawun hingga sekarang.

Ki Ageng Ketawang selama menetap di Tawun memiliki dua putra yaitu Raden Lodro Jaya dan Raden Hascaryo , konon kedua putranya memiliki kegemaran yang berbeda . Raden Lodro Jaya gemar bercocok tanam dan selalu dekat dengan rakyat sedang Raden Hascaryo lebih gemar pada pemerintahan dan Olah Kanuragan konon menerima Pusaka Sakti dari Ki Ageng Ketawang berupa Selendang  Sakti yang diberi nama Kyai CINDE untuk mengemban tugasnya menjadi Senopati Perang di Kerajaan Pajang saat terjadi peperangan dengan Kerajaan Blambangan.

Hanya yang menyamakan ke duanya adalah Berbudi luhur , Pemberani dan memiliki jiwa kerohanian yang tinggi berkat bimbingan Ki Ageng Ketawang yang lebih di kenal dengan nama Ki Ageng Mentaun.

Berawal dari datangnya musim kering yang ditandai dengan gugurnya daun jati ,, Raden Lodra Jaya hatinya teriris karena lahan pertanian ( bercocok tanam ) di bawah sumber tawun tanahnya merekah ( Nelo .red bhs jawa ) kekurangan air berdampak tanaman di bawah sendang tawun mati dan kegiatan bercocok tanam berhenti .berdampak rakyat bakal terancam kekurangan pangan dan terancam wabah penyakit akibat kekurangan air.

Untuk mendapatkan petunjuk Sang Hyang Wenang ( Tuhan YME .red ) Raden Lodra Jaya meminta restu pada Orang Tuannya ( Ki Ageng Ketawang .Red ) tepatnya pada hari Jum’at Legi penggalan Jawa Islam guna bertapa mohon petunjuk Sang Hyang Wenang di lokasi sumber air ( Sumber Tawun ).

Tepat dimalam Selasa Kliwon penggalan Jawa Islam , pukul 24.00 wib, terdengar ledakan dasyat yang berasal dari tempat Raden Lodra Jaya bertapa , rakyat berdatangan dan mencoba melihat dan mencari Raden Lodra Jaya yang sudah tidak ada di tempat bertapanya , malam itu juga rakyat tawun menceburkan diri ke sendang tawun untuk mencari keberadaan Raden Lodra Jaya, hingga pagi datang rakyat kebur sendang Tawun dan Keduk ( Keringkan ) air sendang Tawun ,namun  raga Raden Lodra Jaya tidak di ketemukan dan rakyat tawun meyakini Raga Raden Lodra Jaya telah muksa.

BAH WO POMO , JURU KUNCI DAN JURU SILEM ACARA KEDUK BEJI MERUPAKAN KETURUNAN TRAH KI AGENG TAWUN

Maka sejak itu tiap tahun , tepat di hari Slasa Kliwon pukul 24.00 wib warga Tawun melakukan turun sendang kungkum mengenang muksanya Raden Lodra Jaya dan dilanjutkan ke esokan harinya Keduk Beji ( Kuras Sumber Air ) sebagai awal mula di adakan Keduk Beji sampai sekarang.

Seiring berjalnnya waktu dan massa sendang Tawun sejak tahun 1952 telah menjadi sumber air irigasi pertanian sawah warga di bawahnya , obyek wisata pemandian tawun yang pertama di Kabupaten Ngawi , menjadi jujukan wisatawan tiap datangnya acara bersih desa Tawun ‘ Keduk Beji ‘ mengenag muksanya Raden Lodra Jaya..dan menjadi rangkain kegiatan ( Safari )  memperingati Hari Jadi Kabupaten Ngawi ( ADV. DISPARPORA KAB.NGAWI )

0Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed