oleh

Miss HOAX Tahun 2018, “Penganiyaan Berbungkus Plastik”

Interupsi

Mulai dari bencana gempa Lombok, disusul dengan gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, dan yang terakhir adalah bencana dahsyat konspirasi jahat calon pemimpin negeri membuat sinetron kejar tayang yang berakhir tragis. Semua skenario jahat, terbongkar dan melahirkan rasa malu yang ironisnya bukan diakui tapi digelinding menjadi isu baru, lagi. Untuk apa?

Mungkin, untuk mempertahankan ego sekaligus mengamankan ambisi dan tujuan untuk berkuasa. Bukan justru memelihara malu yang sebenarnya adalah budaya asli kita manusia nusantara.

Seorang aktris pemain drama yang katanya juga aktipis memainkan perannya dengan sangat baik walaupun dengan skenario yang sangat ceroboh bahkan memalukan juga rendah.

Bagaimana tidak, bukan hanya satu atau dua orang saja yang menjadi target penipuan ini. Tapi, seluruh rakyat Indonesia. Coba kita bayangkan, SELURUH RAKYAT INDONESIA.

Mereka ingin menipu seluruh rakyat Indonesia dengan drama murahan.

“Penganiyaan berbungkus plastik”.

Setelah terbongkar, si aktris justru mau kabur ke luar negeri. Entah Malu, atau justru sudah tak tahu malu.

Padahal, sebelumnya sudah konferensi pers mengakui segala kesalahannya, tapi justru itu juga hanya bagian dari drama. Tak ada niat baik sedikitpun dari mereka. Buktinya, berkonspirasi lagi, berencana menerbangkan si aktris untuk menghindari proses hukum, dan biadabnya dibiayai oleh negara. Dalam hal ini, DKI Jakarta.

Saya membayangkan, gimana tangis para pejuang bangsa ini, yang dari perjuangan mereka justru melahirkan barisan pecundang dan manusia-manusia picik seperti mereka ini. Padahal tak hanya harta, mereka sudah menaruhkan semua miliknya, harta bahkan nyawa.

Lalu, apa skenario selanjutnya?

Semua sudah terlanjur malu, harus ada yang dikorbankan. Si aktris bodoh belum juga sadar, bahwa dia sedang menjadi tumbal konspirasi jahat para orang-orang yang ambisius.

Jika saya jadi Ratna, saya akan bongkar semua skenario aslinya. Minimal, saya mengakhiri semuanya secara ksatria dan mulya. Hitung-hitung membayar lunas atas konspirasi jahat yang selama ini sudah dilakukannya dalam rangka pembodohan massal dengan hoax.

Tapi, memang lain lubuk, lain ikan. Beda orang, beda pemikiran. Dan itu sangatlah wajar. Ratna bergeming untuk membongkar skenario jahat yang sudah dilakukannya yang sudah terbukti secara sah dan bahkan diakuinya. Walaupun sebenarnya, orang-orang yang dia bela sedang mencuci tangan masing-masing dan mendorongnya ke jurang sebagai tumbal.

Konyol dan menyedihkan, nasib Ratna diujung tanduk, sudah diciduk dengan predikat missHoax.

Saya hanya berpikir, jika saja Ratna Sarumpaet mau mengakui semuanya dan insyaf benar-benar taubat dengan perbuatannya, pasti orang-orang akan lebih respect pada dirinya. Bahkan, saya haqqul yakin dia akan menemukan cara yang lebih baik untuk berjuang dengan idealismenya. Bukan justru larut dengan cara-cara kotor seperti yang dilakukannya selama ini.

Ada pepatah bilang, kalau berteman dengan penjual minyak, kita akan ikut wangi minyak.

Begitu juga jika kita berada di tumpukan kardus, plastik, dan sampah-sampah lainnya, kita akan dapat bau atau justru jadi bau itu sendiri.

Yang terakhir, kalaupun iya Prabowo dalam hal ini sudah ditipu oleh Ratna Sarumpaet dengan kebohongannya, kenapa buru-buru bikin konfrensi pers waktu itu? dan meyakini itu seolah-olah sudah di identifikasi secara konkrit. Atau minimal, laporkan Ratna Sarumpaet ke pihak polisi agar semakin jelas nanti siapa sebenarnya dia. Misalnya dengan tuduhan pencemaran nama baik. Hehe

Renungannya :

Bukankah ini bahaya jika dia harus jadi presiden yang mudah percaya terhadap bisikan-bisikan setan (versi RS saat pressconf).

Dan, kenapa juga pada saat yang sama Fadli Zon posting Foto bersama si aktris seolah-olah memang iya itu terjadi. Bahkan dengan caption yang provokatif dan seolah menuduh itu perbuatan lawan politknya.

Di ikuti oleh semua anggota koalisi yang lainnya. Apakah ini bukan konspirasi? Atau memang mereka dibisiki setan berjamaah seperti kata Ratna Sarumpaet saat konfrensi pers sebelumnya, bahwa dia dibisiki setan. Entah setan akan protes atau tidak pada tuhan karena hal ini.

Pointnya, jangan percaya dengan apapun dari seorang pembohong atau orang-orang yang berkumpul untuk berbohong. Karena itu artinya, kita sedang memasukan kepala kita ke mulut buaya atau macan.

Jika memang mereka mengakui bahwa drama ini adalah konspirasi, mungkin mereka baru layak mendapatkan kepercayaan kita kembali.

Jangan terkecoh, mereka masih selalu mengintai dan menunggu momentum, kapan kita bisa dibohongi pagi.

Secara pribadi, untuk semangat angi Hoax Nasional, saya meminta pemerintah menjadikan momentum ini untuk memerangi Hoax dengan menjadikan tanggal 03 Oktober sebagai HARI ANTI-HOAX NASIONAL.

Salam Redaksi.

0Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed