oleh

Praperadilan Kasus Guru Arya, Disidangkan

Berita Oposisi.co.id,- Begitu seriusnya para pihak untuk menyelsaikan kasus hukum yang melibatkan guru GTT SD 2 Patoman, Arya, 23, dengan belasan orang tua murid. Hasil penyidikan Reskrim Polsek Rogojampi menetapkan guru Arya dan 2 pelatih PSHT jadi tersangka. Sementara itu,  pihak pengacara guru Arya yang dibentuk oleh PK PGRI Banyuwangi mengajukan banyak keberatan atas ketersangkaan itu.

Gembong Aji R Ahmad, S.H., selaku Ketua tim mengatakan bahwa ada hal yang patut kami kurang sependapat dengan hasil penyidikan pihak polisi : 1. Kasus Guru Arya itu kesalahan profesi, atau malapraktik pembelajaran. Oleh karena itu penyelesainya di dewan kehormatan profesi guru (PGRI). 2. Menetapkan Guru Arya sebagai tersangka kriminal pun alat buktinya kurang dan juga kurang sahih. Juga dikatakan oleh M. Ikbal, S.H. anggota tim seirama dengan yang disampaikan ketua timnya.

Itu sebabnya tim Advokat PGRI mengajukan gugatan praperadilan. Dan alhamdulillah sudah disidangkan Jumat, 5 Juli kemarin. Hasilnya insyaAllah akan dibacakan majelis hakim Jumat pekan depan. Menunggu keputusan Mas, siapapun yang dimenangkan hakim, kita hormati, ” tegas Gembong seorang Advokat yang energik sekali itu.

Sementara M.Ikbal menyambungnya, “Syarat dan prosedur sudah kami penuhi, persoalan menang atau kalah menjadi wewenang majelis hakim yang menangani. Menang atau kalah ada banyak pembelajaran di sana baik bagi kami maupun pihak Kepolisian. Tunggu keputusan Jumat besok lah Mas , “ sambungnya.

Memang sepertinya ada dua pandangan yang berbeda. Menurut Mochammad Rifai yang menangani dDivisi Penegakan Kode Etik Profesi dan Advokasi Guru PK PGRI mengatakan ;

” Bahwa kasus guru Arya itu lebih rasional dibawa ke sidang etik profesi, bukan kriminal murni. Tindakan guru Arya itu kalau kita cermati masih di wilayah pembelajaran (ekstrakurikuler). Niatnya melakukan hal yang baik, merapikan rabut siswanya. Karena yang disuruh bukan tukang cukur hasilnya bisa dipastikan petal-petal. Sama sekali bukan penganiayaan “.

Masih kata Mochammad Rifai, ” Dan memang tidak ada niatan menganiaya. Kalau katanya menyebabkan traumatik pada diri siswa, itu diplomasi orang tuanya. Buktinya selang sehari mereka sekolah dan biasa dengan teman-temannya, penuturan Kaseknya begitu. Semua sudah berlalu dan sekarang sudah masuk ke wilayah tuntutan hukum. Semoga ada keputusan keadilan yang memuaskan kedua pihak , “ pungkas Rifai. (rdy35).

0Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed