oleh

TACB Gali Informasi Satu Tempat Yang Diduga Makam Mbah Marsan Gandrung Lanang

Banyuwangi Oposisi.co.id

Tim Ahli Cagar Budaya ( TACB ) Kabupaten Banyuwangi Rabo 9/1/2019 datangi sebuah Tempat Pemakaman Umum ( TPU ) di Dusun Juruh Desa Singojuruh Banyuwangi. Kedatangan mereka dalam rangka gali data informasi bahwa di TPU Juruh tersebut diduga Mbah Buyut Marsan dimakamkan.

Bermula dari adanya informasi dari warga Dusun Juruh yang kabarnya setiap Hari Raya dan hari – hari teterntu ziaroh ke salah satu makam. Yang mana rumornya makam yang kerap jadi tempat ziarohnya diyakini adalah makam Mbah Buyut Marsan. Sementara ada cerita legenda bahwa jaman Belanda dahulu ada seorang penari Gandrung Lanang ( Laki ) bernama panggilan Marsan.

Lantaran informasi itulah Camat Singojuruh bersama Tim Ahli Cagar Budaya ( TACB ) gali data informasi dari Sidik Wiyoto yang mengaku sebagai cucu angkat dari Mbah Marsan. Sidik Wiyoto (76 thn) adalah anak bungsu dari 6 bersaudara punya ibu bernama ” Manten “.Diceritakan oleh Sidik Wiyoto bahwa ibunya yang bernama ” Manten ” adalah anak akon – akon ( anak angkat ) Marsan. Sidik Wiyoto yang sudah lupa kapan tahun meninggal ibunya itu mengatakan berdasarkan cerita ibunya. Bahwa Marsan asalnya bertempat di Andong salah satu Dusun di Desa Padang yang tidak jauh dari Desa Cantuk. Dan konon ceritanya di utara Dusun Andong itu ada sebuah bukit yang oleh warga disebut ” Bukit Kesambi “ Tegalwudi yang ada cerita mistis di bukit itu ada sebuah Mahkota Penari Gandrung (Omprok/Kuluk Gandrung).

Ilham salah satu dari Tim Ahli Cagar Budaya ( TACB ) dalam bincang – bincangnya dengan Camat Singojuruh Mohammad Lutfi, S.Sos.,M.Si. Akan dilakukan pendataan secara lengkap, didiskusikan, diinventarisir dan akan dirapatkan bersama tim yang di dalamnya ada tim Arkeologi dan ahli sejarah. Sekilas Ilham bercerita bahwa Penari Gandrung jaman dulu berkeliling dapat upah beras yang kemudian jadi logistik para pejuang. Gandrung jaman dulu sebenarnya jadi alat berjuang yang kemudian oleh Belanda dirubah jadi hiburan yaitu diganti penarinya seorang perempuan bernama Semi.

Saat dikonfirmasi hasil peninjauan dan penggalian data informasi tentang kebenaran bahwa makan tersebut adalah makan ” Mbah Marsan “,

” Mohon maaf kami masih belum bisa mengambil kesimpulan sebelum kita mengkaji secara lengkap, termasuk mendeteksi logam – logam dan bila mungkin barang peninggalan yang lain kalau ada, “ ungkapnya.

Sementara Camat Singojuruh Mohammad Lutfi, S.Sos., M.Si sepertinya cukup yakin kalau itu adalah makam ” Mbah Marsan “.

” Saya cukup yakin karena ada anak cucunya dan berani menunjuk tempatnya. Dikuatkan lagi di Desa Singojuruh ada sebuah Sungai / Kali yang oleh warga disebut ” Kali Gandrung “. Kalau sebelumnya ada informasi bahwa makam ” Mbah Marsan ” ada di Desa Cantuk tapi sampai saat ini tidak ada yang berani menunjuk tempatnya di mana, “ ujar Camat Lutfi.

Selanjutnya Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan Camat bergeser menuju lokasi yaitu sebuah rumah kediaman terkahir ” Marsan “ saat hidup bersama anak angkatnya bernama ” Manten ” sampai akhir hayatnya. (rdy35/eta).

29Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed